Pisang Syndrome
Warisan Manis yang Turun-Temurun
Pagi itu, seperti biasa, aku, ibu, dan kakak perempuanku lagi santai ngeteh di teras rumah. Aroma teh tubruk campur jahe hangatnya bikin suasana pagi jadi adem, sambil ngobrol ngalor-ngidul soal cuaca Jawa Tengan yang lagi panas-panasnya, engga seperti di Bogor yang dinginnya luar biasa, terutama di rumahku yang dipenuhi pohon pohon besar. Ibu lagi cerita soal tetangga yang baru meninggal, kakakku tambahin gosip kecil-kecilan, dan aku cuma angguk-angguk sambil nyruput tehku. Pokoknya, pagi yang biasa aja, tapi damai.
Tibalah saatnya giliran minum obat. Ibu dan kakakku langsung kompak: “Pisang mana pisang?” Mereka berdua mulai cari-cari di meja dapur, kayak lagi main petak umpet sama buah kuning itu. Aku langsung ingat diri sendiri dulu: ya Allah, persis banget kayak aku! Dulu, kalau minum obat tanpa pisang, rasanya obat itu pasti nyangkut di tenggorokan. Air doang? Nggak bakal masuk mulus. Harus ada pisang yang nemenin, biar obatnya “seluncur” aman ke perut. Ya Salaam ya Salaam, kalau nggak, pasti panik sendiri: “Wah, ini nyasar nih, bisa-bisa tersedak!”
Aku langsung ketawa kecil, lalu bilang ke mereka: “Bu, Mbak, mata rantai minum obat pakai pisang ini aku putusin sampe aku aja loh. Anak-anakku sekarang minum obat pake air doang, santai banget. Nggak ada drama nyangkut-nyangkut.” Mereka berdua langsung melongo, terus ibu bilang, “Lha yo, Bu Fatimah, nek tanpa pisang aku wedi!” Kakakku angguk setuju, sambil potong pisangnya jadi kecil-kecil biar obatnya gampang ditelan.
Tapi setelah itu, aku mikir-mikir lagi sendirian. Kok bisa ya, kami bertiga punya “kebiasaan” yang sama persis ini? Apakah ini termasuk penyakit cemas yang melanda kami para peminum obat dengan bantuan pisang, roti, atau nasi dan sebangsanya? Ya, nggak sih, kuatir banget obat nyasar atau nyangkut di tenggorokan, sehingga harus masuk ke perut mulus dengan pisang itu. Ya salaam, sehebat inikah psikosomatis yang diturunkan ibuku pada kami? Ya Salaam ya Salaam, lindungi ibuku dan juga kami semua.
Untungnya, setelah aku cek-cek, faktanya ini bukan 'penyakit' aneh atau 'warisan' ataupun 'kutukan' keluarga, tapi kondisi yang lumayan umum disebut pseudodysphagia atau phagophobia—rasa takut irasional terhadap menelan, khususnya pil/obat, karena takut tersedak atau nyangkut. Ini 100% psikosomatis: pikiran kita yang bikin tubuh bereaksi kayak gitu, meski secara fisik nggak ada masalah apa-apa. Bukan karena obatnya beneran nyangkut, tapi karena otak lagi main drama “wah ini bahaya!” dan bikin tenggorokan rasanya kaku.
Dan akhirnya aku tau kenapa itu bisa turun-temurun, di antaranya karena pengaruh keluarga/lingkungan. Ya, ini bisa “diturunkan” lewat pengamatan sejak kecil. Misalnya, kalau ibumu dulu sering bilang “Aduh, obatnya nyangkut nih, butuh pisang!” sambil panik, anak-anak (termasuk aku dan kakak) subconsciously belajar: “Oh, minum obat tanpa pisang = bahaya.” Ini bukan genetik beneran kayak warna mata, tapi pola perilaku yang ditiru karena lingkungan rumah tangga dulu yang penuh ketakutan (seperti kisah kami). Jadi, ibuku nggak sengaja “wariskan” cemas ini, tapi aku sudah putus rantainya buat anak-anakku! Mereka minum obat pake air doang karena lihat aku santai, nggak panik.
Sebab lain adalah hubungan sama kecemasan. Iya, ini sering terkait anxiety disorder, seperti fear of choking (takut tersedak). Kalau lagi stres atau cemas, tenggorokan rasanya lebih kering/kaku, jadi obat beneran terasa nyangkut. Tapi sebenernya, air aja cukup—cuma pikiran yang bikin ribet. Kalau bertubi-tubi, bisa jadi bagian dari psikosomatis lebih luas, seperti yang aku bilang: “lindungi ibuku dan kami dari tubi-tubi ini”. Wkwkwk.
Pagi itu berakhir dengan tawa kecil-kecilan. Ibu dan kakak masih setia sama pisangnya, tapi aku senang karena anak-anakku bebas dari “Pisang Syndrome” ini. Sesederhana itu. Mungkin suatu hari aku ajak mereka coba tanpa pisang, pelan-pelan. Yang penting, pagi-pagi kayak gini bikin aku sadar: keluarga kami penuh cerita lucu yang 'psikosomatis', tapi juga penuh kasih sayang. Ya Allah, lindungi ibuku yang paling sederhana ini, kakakku yang kompak, dan kami semua dari cemas yang nggak perlu. Amin.
Apakah kalian juga minum obat pakai pisang ?
(Written with love, untuk kenangan bareng Ibu. ❤️ Fatimah, Jawa Tengah, 2026)
Komentar
Posting Komentar