Ndoro Putri
Di sebuah rumah kayu bercat putih pudar di pinggir kota kecil, ibuku, seorang perempuan tua. Orang-orang kampung memanggilnya Mbah Uti, Biasa saja, tapi anak-anaknya punya nama lain untuknya: Ndoro Putri. Bukan karena dia pernah tinggal di keraton, bukan pula karena darah biru yang mengalir di nadinya pernah diakui resmi. Hanya karena, sejak kecil, anak bungsu perempuan itu selalu memanggilnya begitu sambil tertawa, seolah-olah sedang bercanda. Tapi lama-lama panggilan itu menempel, seperti embun yang tak pernah benar-benar pergi dari daun keladi di halaman.
Dahulu kala, katanya, nenek moyang Mbah Uti adalah bendara kecil di keraton, entah kraton mana. Akupun mengira mungkin bukan Bendoro tapi Kawulo. Gelar itu sudah lama terkubur bersama surat-surat tanah yang hangus di masa perang. Yang tersisa cuma cerita ibunya, dan sehelai jarik parang rusak yang masih disimpan di dalam lemari tua kayu jati. Mbah Uti tak pernah memakainya lagi. “Buat apa,” katanya pelan, “orang sudah lupa, aku juga lupa.”
Tapi ada yang tidak pernah lupa.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Mbah Uti sudah bangun. Dia menyapu halaman dengan sapu lidi, gerakannya pelan dan teratur, seperti sedang menari Bedhaya yang tak lagi punya gamelan. Rambutnya yang sudah memutih disanggul kecil tanpa konde, hanya diselipkan tusuk konde bambu sederhana, kadang pakai kayu tusuk gigi. Dia pakai daster bunga-bunga lusuh dan kain panjang motif kembang kapas yang sudah tipis. Tapi entah kenapa, orang yang lewat pagar selalu melambatkan langkah, lalu mengangguk hormat tanpa sadar.
“Monggo, Mbah.”
Dia hanya tersenyum, giginya sudah tak rapi karena usia sudah delapan puluh tiga.
Aku anak perempuan bungsu, selalu pulang tiap akhir pekan membawa tas penuh oleh-oleh. Kadang baju baru, kadang uang, kadang cuma sekotak martabak. Aku suka memandang ibuku lama-lama, lalu tiba-tiba tertawa.
“Ndoro Putri lagi nyapu halaman ya hari ini?”
Mbah Uti cuma geleng-geleng sambil tertawa “Pancen tutukmu kui njaluk di....” katanya bercanda dan hendak memukulku pakai gagang sapu.
Suatu hari, aku datang dengan membawa kotak besar berpita. Di dalamnya ada kebaya kutubaru warna gading lembut, bordirnya halus seperti kabut pagi. Ada jarik kawung cokelat tua yang masih berbau kamper baru. Ada sanggul cepol palsu, ada bros kecil mutiara, ada selendang sutra tipis.
“Aku mau Ndoro Putri pulang ke istana sehari saja,” kataku sambil tersenyum berkelakar.
Mbah Uti menat, matanya berkaca-kaca, tapi mulutnya tetap berkata, “Ah, ribet. Buat apa.”
Tapi sore itu juga, anak-anak dan cucu-cucu datang semua. Rumah kecil itu tiba-tiba ramai. Mereka memaksa Mbah Uti mandi, memakaikan bedak tabur harum melati, memasangkan kebaya, melilitkan jarik dengan lipatan rapi, menyematkan bros, menyampirkan selendang. Terakhir, aku memasang sanggul cepol itu dengan hati-hati-hati, lalu memasangkan jilbab segi empat krem yang dilipat sempurna.
Ketika Mbah Uti berjalan keluar kamar, semua orang terdiam.
Di bawah lampu neon yang biasa-biasa saja, perempuan tua itu tiba-tiba jadi lain. Bahunya tegak tanpa disuruh. Langkahnya pelan dan pasti. Senyumnya tipis, tapi matanya berbinar seperti permaisuri yang baru turun dari singgasana. Jariknya bergoyang lembut setiap kali dia melangkah, kebayanya memantulkan cahaya seperti sutra keraton.
Cucu paling kecil berbisik, “Mbah… kok cantik banget?”
Ibuku tertawa pelan, suaranya seperti gamelan yang lama tak disentuh tapi masih ingat nada.
“Ini cuma kain biasa, Nak.”
Tapi malam itu, mereka foto bersama. Ibuku duduk di kursi tengah, tangannya terlipat rapi di pangkuan, dagunya sedikit terangkat. Di foto itu, tak ada yang berani bilang dia Mbah Uti. Dia memang Ndoro Putri, yang pulang kampung, yang selama ini menyamar jadi ibu sederhana di rumah kayu putih.
Setelah semua pulang, ibuku kembali melepas kebaya itu. Dia melipatnya rapi, memasukkan kembali ke lemari kayu, lalu menyimpannya di lemari paling atas. Besok pagi, dia akan bangun lagi jam empat, menyapu halaman dengan daster bunga-bunga, tanpa sanggul, tanpa kebaya.
Tapi aku tahu, setiap kali ibuku tersenyum sambil mengangkat sapu lidi, di balik mata yang sudah tua itu masih tersimpan kilau singgasana yang tak pernah benar-benar pergi.
Karena Ndoro Putri sejati tak butuh mahkota untuk tetap menjadi ratu.
Dia hanya butuh anak yang memanggilnya dengan cinta, meski cuma sambil bercanda.
Dan rumah kecil bercat putih itu, selamanya jadi istana kecilnya.
Merajut kenangan bersama kebaya lawas ibuku.
Komentar
Posting Komentar