Dikira Kuat, Tapi Ternyata Manusiawi




Aku menganggap ibuku adalah segalanya. Orang paling kuat di dunia ini, tak pernah mengeluh, tak pernah menunjukkan kelemahan. Dulu, saat aku masih kanak-kanak, dewasa, bahkan sekarang menjelang lansia, aku masih melihatnya begitu. Bahkan saat sakit, saat aku yang merawatnya, ibuku kukira tetap tak tergoyahkan. Tapi, seperti ditempeleng realitas, lebih dari setengah abad kemudian, aku sadar: ibuku bukan pilar besi. Dia manusia, dengan panik, kekhawatiran, dan kerapuhan yang selama ini dia sembunyikan demi kami.

Semuanya dimulai dari hal-hal kecil yang tiba-tiba terbuka lebar. Suatu hari, aku mendapati ibuku di kamar mandi dengan pintu sedikit terbuka. "Tutuplah pintunya, Bu," kataku spontan, khawatir privasinya terganggu. Tapi dia menjawab pelan, "Pintunya rusak. Tadi aku terkunci di dalam dan panik sekali." Panik? Ibuku panik karena pintu kamar mandi yang rusak? Aku terkejut. Pagi harinya, aku langsung panggil tukang untuk perbaiki engselnya. Meski begitu, pintu itu tak pernah nutup sempurna lagi. Kini, aku biarkan sedikit terbuka, bukan karena malas, tapi supaya ibuku merasa aman, seperti ada yang menjaga dari luar, tanpa kata-kata.

Lalu, ada pagi yang tenang, saat ibuku mendekatiku dengan wajah sedikit cemas. "Aku masih suka sesak napas," katanya. "Tadi angkat panci presto, nafasku langsung berat." Dia lanjut cerita, "Aku juga merasa sesak saat angkat singkong pemberian tukang tadi. Apakah aku belum sembuh?" Ibuku kuatir? Itu baru pertama kalinya aku lihat dia begitu. Aku peluk bahunya pelan, bilang, "Tidak apa, Bu. Ibu memang sudah tidak boleh angkat berat-berat lagi. Meski tidak sesak pun, ibu tidak boleh. Semua orang punya masa, Bu, dan semua masa ada orangnya yang bergerak. Ibu tak perlu kuatir." Aku tambah, "Yang penting ibu sehat dan gembira. Mau apalagi, Bu?" Senyumnya kembali, meski tipis, dan itu cukup buatku lega.

Tapi, momen yang paling mengguncang datang di malam yang seharusnya damai. Aku dan ibuku sudah hampir terlelap, tiba-tiba cucu kakakku, Caca, mendekat. "Mbah, aku mau sama Mbah Ummi," katanya lirih. Aku yang sudah setengah melek bertanya, "Kenapa? Mbahmu kemana?" "Semua pergi," jawabnya. "Aku takut sendiri. Tadi ada ambulance." Hah? Ambulance? Aku kaget bangun, sedikit berteriak, "Siapa yang sakit?!" Suaraku yang spontan itu membangunkan ibuku. Kami berlari ke rumah kakakku di sebelah. Benar, ambulance masih parkir di halaman. Di dalamnya, keponakanku, Nia, terbujur lemah—ternyata dia jatuh dan kepalanya kepentok meja dapur.

Ibuku tampak kebingungan, langsung berlari ke kamar mandi karena diare mendadak. Aku nunggu di depan pintu, khawatir. Saat keluar, mulut dan tangannya bergetar—ngewel, seperti istilah Jawa kami. Nafasnya tersengal-sengal. Aku bimbing dia pulang, ambil oksigen portable untuk bantu dia bernapas. "Ibuku begitu lemah sekarang," gumamku dalam hati. Setelah reda, aku temani dia tidur. "Tidak apa, Bu," kataku menenangkan. "Nia hanya jatuh kepentok meja, biar dipriksakan di rumah sakit. Kita doakan saja." Pagi harinya, aku ke IGD cek Nia—dia sudah baikan—dan beri kabar ke ibu supaya tenang. Neneknya (ibuku) akhirnya bisa istirahat dengan hati ringan.

Dari pintu kamar mandi yang rusak, sesak napas saat angkat barang, sampai malam ambulance yang bikin panik seluruh rumah—semua itu seperti tamparan lembut dari Tuhan. Aku sadar, ibuku bukan lagi "orang terkuat di muka bumi" seperti dulu kukira. Dia bisa panik, bisa kuatir, bisa lemah. Tapi justru itu yang membuatku lebih mencintainya. Sekarang, aku yang bergerak untuknya—merawat, menenangkan, dan memastikan dia gembira. Di Jakarta yang sibuk ini, di usia kami yang sudah menjelang senja, momen-momen seperti ini yang bikin hidup terasa lebih nyata. Menulisnya saja sudah bikin dada lebih ringan, seperti racun-racun itu ikut menguap. Terima kasih, Bu, atas pelajaranmu yang tak ternilai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silabus Al Muyassar

Iri

Anakku, Ampuni Ibumu