Ayah

 




Kenangan Ayah: Jika Hari Itu Nanti Datang

(Juni 2006 - Juni 2026)

Aku bahkan tak menyadari hingga saat ini pengorbanan dan kasih sayang ayahku, karena dulu aku tak pernah mengingatnya. Saat masih kecil, aku hanya melihat dari sisi bahwa ayahku sering memarahiku, seperti tidak menyukaiku sama sekali. Saat itu kukira aku memang gadis yang menyebalkan ya. Tapi setelah dewasa, bahkan baru setelah tua, aku menyadarinya: perhatiannya padaku begitu besar, melebihi apa yang pernah kubayangkan.

Ayahku, sosok yang selalu aku ingat sebagai pekerja keras tapi penyayang. Dari kecil, dia selalu pulang malam-malam membawa bawaan yang bikin rumah kami menjadi wangi—durian harum, mangga harum manis besar buat berbuka puasa, atau makanan lezat lain yang bikin kami semua tersenyum. Aku ingat, ibuku akan menatanya di meja makan oval besar milik kami. Lalu kami akan berbuka di sana sambil berbicara riang, seperti momen spesial yang ayah ciptakan tanpa banyak kata.

Aku nggak pernah bisa bermanja-manja dengan ayahku, karena dia tipe orang tegas yang jarang omong soal perasaan. Tapi aku tau, itu caranya menunjukkan sayang: lewat usaha nyata demi keluarga. Dia tumbuh besar di pesantren di Purworejo, pesantren kecil dan kuno, mengabdi pada kyai, dan meski sibuk kerja, dia panggil guru ngaji ke rumah supaya kami bisa belajar agama dengan nyaman. Bahkan, dia bangun surau kecil di sebelah dapur ibu—suara kakak-kakakku mengaji dari sana bersama guru kami Kyai Basyar selalu bikin hati tenang, seperti pelukan diam-diam dari ayah.Ayahku? Dia adalah pembaca Al Quran terbaik di keluarga kami, apalagi saat Ramadhan sudah mendekati Syawwal dia akan begadang untuk menghatamkan Al Quran. Aku ? Aku adalah pembaca Al Quran yang penuh koreksian, dan salah satunya yang takkan kulupakan hingga sekarang : Innaka Anntal wahaaab. Wahhaaab, kata ayahku.

Ketegasannya kadang bikin aku merasa sering kena marah, beda sama ibu yang selalu lembut dan nggak pernah membentak. Tapi di balik itu, ayah selalu ada buat bela aku. Waktu aku kelas 6 SD, aku sering menangis karena kakakku sering berbuat iseng padaku, ayah langsung marah (atau pura-pura marah pada kakakku keras-keras), agar aku diam dan merasa aman. Pas aku demam panas, sebelum berangkat kerja, dia meninggalkan pecahan receh di samping kasur—mungkin buat beli obat atau es krim, tapi itu rasanya seperti bisik "ayah sayang kamu". Bahkan saat SMA, aku dikeluarkan dari sekolah gara-gara kasus jilbab, ayah yang paling depan membelanya. "Jangan takut," katanya, dan itu membuatku kuat banget menghadapi semuanya.

Pas aku sudah berkeluarga dan pindah-pindah kontrakan yang nggak terhitung jumlahnya, ayah tetep setia menengok. Sebanyak kontrakan yang aku tempati, sebanyak itu pula dia datang, bawa cerita atau sekadar cek keadaan. Dia bahkan berjuang urus tanah sengketa di kampung halaman, pengen itu jadi milikku supaya aku nggak kontrakan lagi. Padahal, aku tau itu mustahil—tanahnya udah ditukar uang buat biaya hidup dan pendidikan kami. Tapi ayah tetep usaha, seolah-olah nggak ada kata menyerah kalau buat anaknya. Itu membuat hatiku patah, tapi juga penuh syukur: sebesar itu pengorbanan orang tua.

Ayah pergi di tahun 2006, pas anak bungsuku baru umur 1 tahun, karena diabetes. Rindu banget, tapi kenangan ini bikin aku sadar: kasih sayang ayah nggak pernah hilang. Dia ajarin aku tegar, sabar, dan rela berkorban. Sekarang, di usiaku yang udah matang ini, aku mencoba terapkan itu ke keluarga kecilku. Ya, kukira semua anakku seperti kakeknya—4 anak lelakiku bahkan si bungsu yang cewek, semua adalah pembaca Al-Quran yang baik masyaallah dan pekerja keras seperti kakeknya. Kukira perjanjianku dengan mereka, mereka tepati: 2 harus diingat—jangan melanggar syariat, jangan melanggar kriminal; 3 harus dipilih—pesantren atau sekolah umum atau bekerja. Tidak ada diam dan pengangguran, itulah perjanjianku dengan anak-anak. Ayah, makasih ya—kamu tetap yang terbaik, dan warisanmu hidup terus di mereka.


Mengenang ayah, meski terlambat
In Remembrance of Father: Though Late, But With All My Heart
(hihi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silabus Al Muyassar

Iri

Anakku, Ampuni Ibumu