Hampir Ketinggalan Kereta
Hari itu terasa lebih sibuk dari biasanya. Aku menemani ibu ke Jogja untuk keperluan input data di Kemenhaj, tapi rencana kakak mendadak berubah, charger laptop ketinggalan, ibu pakai sandal yang nggak nyaman, dan kabarnya Jogja lagi hujan deras tanpa aku bawa payung. Ya Salaam, semuanya datang sekaligus.
Hari berikutnya terasa lebih sibuk lagi saat kami mau pulang ke kampung. Di stasiun Lempuyangan, aku buru-buru ngeprint tiket. Kakakku menuntun ibu pelan-pelan supaya nggak sesak napas. Tapi waktu sudah mepet banget—pengumuman kereta sudah mulai. Aku lihat jam, tinggal beberapa menit lagi. “Cepat, Bu!” kataku sambil gendong tiga tas besar: tas ibu, tas baju ganti, dan tas laptop. Kakakku bantu bawa satu tas lagi berisi oleh oleh dan gudeg darinya.
Aku berlari kecil-kecilan menuju peron, tas-tas itu bergoyang-goyang di pundak. Ibu dituntun kakak di belakangku, langkahnya pelan tapi pasti. Petugas peron sudah mulai tutup gerbang, tapi aku masih sempat teriak, “Tunggu! Masih ada penumpang!” Mereka kasih kelonggaran sedikit, alhamdulillah.
Akhirnya kami masuk gerbong pas kereta mulai jalan pelan. Dadaku berdegup kencang, napas ngos-ngosan, adrenalin masih terpacu. Aku langsung bantu ibu duduk di gerbong 2 dulu—tempat duduk kami sebenarnya di gerbong 6. Masih harus lewati gerbong 3, 4, 5, dan kereta makan di tengah.
Aku bilang ke ibu, “Tunggu di sini dulu ya Bu, aku ambil tempat duduk.” Lalu aku nyebrang gerbong-gerbong itu sambil bawa tas-tas. Sampai di kereta makan, aku langsung duduk sebentar, pesan dua gelas teh panas. Satu buat ibu, satu buat aku. Tehnya hangat, bikin badan agak tenang setelah lari-larian tadi.
Akhirnya kami duduk di tempat yang benar, ibu pegang gelas tehnya pelan-pelan. Aku liat wajah ibu yang capek tapi tersenyum tipis. “Alhamdulillah selamat naik, Bu,” kataku sambil pegang tangannya.
Hari itu sibuk, capek, dan penuh deg-degan. Tapi di tengah semua itu, yang paling aku ingat adalah tangan ibu yang masih hangat, dan teh panas yang kami minum bareng di kereta yang sudah mulai melaju. Ya Salaam, lindungi perjalanan kami pulang.
(Fatimah, di atas kereta Logawa, Januari 2026) ❤️
Komentar
Posting Komentar