Hampir Ketinggalan Kereta
Hari itu terasa lebih sibuk dari biasanya. Aku menemani ibu ke Jogja untuk keperluan input data di Kemenhaj, tapi rencana kakak mendadak berubah, charger laptop ketinggalan, ibu pakai sandal yang nggak nyaman, dan kabarnya Jogja lagi hujan deras tanpa aku bawa payung. Ya Salaam, semuanya datang sekaligus. Hari berikutnya terasa lebih sibuk lagi saat kami mau pulang ke kampung. Di stasiun Lempuyangan, aku buru-buru ngeprint tiket. Kakakku menuntun ibu pelan-pelan supaya nggak sesak napas. Tapi waktu sudah mepet banget—pengumuman kereta sudah mulai. Aku lihat jam, tinggal beberapa menit lagi. “Cepat, Bu!” kataku sambil gendong tiga tas besar: tas ibu, tas baju ganti, dan tas laptop. Kakakku bantu bawa satu tas lagi berisi oleh oleh dan gudeg darinya. Aku berlari kecil-kecilan menuju peron, tas-tas itu bergoyang-goyang di pundak. Ibu dituntun kakak di belakangku, langkahnya pelan tapi pasti. Petugas peron sudah mulai tutup gerbang, tapi aku masih sempat teriak, “Tunggu! Masih ada pe...