Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Hampir Ketinggalan Kereta

Gambar
  Hari itu terasa lebih sibuk dari biasanya. Aku menemani ibu ke Jogja untuk keperluan input data di Kemenhaj, tapi rencana kakak mendadak berubah, charger laptop ketinggalan, ibu pakai sandal yang nggak nyaman, dan kabarnya Jogja lagi hujan deras tanpa aku bawa payung. Ya Salaam, semuanya datang sekaligus. Hari berikutnya terasa lebih sibuk lagi saat kami mau pulang ke kampung. Di stasiun Lempuyangan, aku buru-buru ngeprint tiket. Kakakku menuntun ibu pelan-pelan supaya nggak sesak napas. Tapi waktu sudah mepet banget—pengumuman kereta sudah mulai. Aku lihat jam, tinggal beberapa menit lagi. “Cepat, Bu!” kataku sambil gendong tiga tas besar: tas ibu, tas baju ganti, dan tas laptop. Kakakku bantu bawa satu tas lagi berisi oleh oleh dan gudeg darinya. Aku berlari kecil-kecilan menuju peron, tas-tas itu bergoyang-goyang di pundak. Ibu dituntun kakak di belakangku, langkahnya pelan tapi pasti. Petugas peron sudah mulai tutup gerbang, tapi aku masih sempat teriak, “Tunggu! Masih ada pe...

Ndoro Putri

Gambar
  Di sebuah rumah kayu bercat putih pudar di pinggir kota kecil, ibuku, seorang perempuan tua. Orang-orang kampung memanggilnya Mbah Uti,  Biasa saja, tapi anak-anaknya punya nama lain untuknya: Ndoro Putri. Bukan karena dia pernah tinggal di keraton, bukan pula karena darah biru yang mengalir di nadinya pernah diakui resmi. Hanya karena, sejak kecil, anak bungsu perempuan itu selalu memanggilnya begitu sambil tertawa, seolah-olah sedang bercanda. Tapi lama-lama panggilan itu menempel, seperti embun yang tak pernah benar-benar pergi dari daun keladi di halaman. Dahulu kala, katanya, nenek moyang Mbah Uti adalah bendara kecil di keraton, entah kraton mana. Akupun mengira mungkin bukan Bendoro tapi Kawulo. Gelar itu sudah lama terkubur bersama surat-surat tanah yang hangus di masa perang. Yang tersisa cuma cerita ibunya, dan sehelai jarik parang rusak yang masih disimpan di dalam lemari tua kayu jati. Mbah Uti tak pernah memakainya lagi. “Buat apa,” katanya pelan, “orang sudah l...

Pisang Syndrome

Gambar
  Warisan Manis yang Turun-Temurun Pagi itu, seperti biasa, aku, ibu, dan kakak perempuanku lagi santai ngeteh di teras rumah. Aroma teh tubruk campur jahe hangatnya bikin suasana pagi jadi adem, sambil ngobrol ngalor-ngidul soal cuaca Jawa Tengan yang lagi panas-panasnya, engga seperti di Bogor yang dinginnya luar biasa, terutama di rumahku yang dipenuhi pohon pohon besar. Ibu lagi cerita soal tetangga yang baru meninggal, kakakku tambahin gosip kecil-kecilan, dan aku cuma angguk-angguk sambil nyruput tehku. Pokoknya, pagi yang biasa aja, tapi damai. Tibalah saatnya giliran minum obat. Ibu dan kakakku langsung kompak: “Pisang mana pisang?” Mereka berdua mulai cari-cari di meja dapur, kayak lagi main petak umpet sama buah kuning itu. Aku langsung ingat diri sendiri dulu: ya Allah, persis banget kayak aku! Dulu, kalau minum obat tanpa pisang, rasanya obat itu pasti nyangkut di tenggorokan. Air doang? Nggak bakal masuk mulus. Harus ada pisang yang nemenin, biar obatnya “seluncur” ama...

Ayah

Gambar
  Kenangan Ayah: Jika Hari Itu Nanti Datang (Juni 2006 - Juni 2026) Aku bahkan tak menyadari hingga saat ini pengorbanan dan kasih sayang ayahku, karena dulu aku tak pernah mengingatnya. Saat masih kecil, aku hanya melihat dari sisi bahwa ayahku sering memarahiku, seperti tidak menyukaiku sama sekali. Saat itu kukira aku memang gadis yang menyebalkan ya. Tapi setelah dewasa, bahkan baru setelah tua, aku menyadarinya: perhatiannya padaku begitu besar, melebihi apa yang pernah kubayangkan. Ayahku, sosok yang selalu aku ingat sebagai pekerja keras tapi penyayang. Dari kecil, dia selalu pulang malam-malam membawa bawaan yang bikin rumah kami menjadi wangi—durian harum, mangga harum manis besar buat berbuka puasa, atau makanan lezat lain yang bikin kami semua tersenyum. Aku ingat, ibuku akan menatanya di meja makan oval besar milik kami. Lalu kami akan berbuka di sana sambil berbicara riang, seperti momen spesial yang ayah ciptakan tanpa banyak kata. Aku nggak pernah bisa bermanja-manja...

Dikira Kuat, Tapi Ternyata Manusiawi

Gambar
Aku menganggap ibuku adalah segalanya. Orang paling kuat di dunia ini, tak pernah mengeluh, tak pernah menunjukkan kelemahan. Dulu, saat aku masih kanak-kanak, dewasa, bahkan sekarang menjelang lansia, aku masih melihatnya begitu. Bahkan saat sakit, saat aku yang merawatnya, ibuku kukira tetap tak tergoyahkan. Tapi, seperti ditempeleng realitas, lebih dari setengah abad kemudian, aku sadar: ibuku bukan pilar besi. Dia manusia, dengan panik, kekhawatiran, dan kerapuhan yang selama ini dia sembunyikan demi kami. Semuanya dimulai dari hal-hal kecil yang tiba-tiba terbuka lebar. Suatu hari, aku mendapati ibuku di kamar mandi dengan pintu sedikit terbuka. "Tutuplah pintunya, Bu," kataku spontan, khawatir privasinya terganggu. Tapi dia menjawab pelan, "Pintunya rusak. Tadi aku terkunci di dalam dan panik sekali." Panik? Ibuku panik karena pintu kamar mandi yang rusak? Aku terkejut. Pagi harinya, aku langsung panggil tukang untuk perbaiki engselnya. Meski begitu, pintu itu...