Kontak WA
Hari ini, aku melihat ibuku pingsan lagi. Aku buru-buru mengoleskan minyak frescare di bawah hidungnya, menunggu dengan cemas sampai ia sadar. Mungkin cuma dua menit, tapi rasanya seperti selamanya. Ibuku sering mengalami ini, sesuatu yang dokter sebut psikosomatis—ketika tekanan batin memicu tubuh bereaksi aneh, seperti kesemutan, kaku, lalu pingsan. Aku tahu rasanya, karena aku pernah mengalaminya juga. Melihat ibuku begitu membuat hatiku terasa berat.
Saat ibuku sadar, aku bertanya, “Anti bikhair?” Tapi seperti biasa, ia hanya diam. Aku tahu ia tidak akan menjawab, jadi aku mengambil ponselnya dan membuka galeri. Di sana, ada beberapa tangkapan layar status WhatsApp dari seseorang yang dekat dengan keluarga kami. Kata-katanya menyakiti hati ibuku, meski mungkin tidak sengaja. Aku pernah menyarankan ibuku untuk menghapus kontak itu, tapi ia belum melakukannya. Mungkin ia masih ingin tahu apa yang terjadi, atau mungkin sulit baginya untuk benar-benar melepaskan. Ponselnya seolah jadi satu-satunya cara aku bisa memahami apa yang ia rasakan.
Aku bukan tipe yang suka menyimpan banyak kontak. Aku juga jarang melihat status WhatsApp. Kalau pun buka, cuma sekilas, lalu berhenti. Menurutku, terlalu sering melihat media sosial bisa mengacaukan pikiran, apalagi kalau isinya sindiran atau kalimat yang bikin bingung. Aku pernah berpikir, apa jadinya kalau orang sensitif seperti ibuku terus membaca status seperti itu? Itu bisa memperberat beban batinnya. Aku lebih suka melihat status tentang makanan, dakwah, atau pendidikan—sesuatu yang ringan dan bermanfaat.
Yang membuatku lebih gelisah adalah saat orang yang menulis status itu datang ke rumah. Mereka tersenyum, mengobrol biasa, seolah kata-kata mereka tidak pernah membuat ibuku terluka. Aku merasa itu tidak adil. Ibuku berjuang dengan emosinya, kadang sampai pingsan, tapi mereka bertindak seolah semuanya baik-baik saja. Aku ingin marah, tapi aku memilih diam. Aku bukan orang yang suka bertengkar. Kalau tersinggung, aku lebih suka menahan diri. Tapi dalam hati, aku bertanya: kenapa ibuku yang harus menanggung ini?
Karena itu, aku berpikir, kadang lebih baik tidak menyimpan kontak tertentu. Bukan soal memutus hubungan, tapi soal menjaga hati dan pikiran tetap waras. Menyimpan kontak seseorang yang kata-katanya menyakiti bisa membuat kita terjebak dalam lingkaran emosi yang tidak sehat. Aku menyarankan ibuku lagi untuk menghapus kontak itu. Ia cuma diam, seperti biasa. Aku mengembalikan ponselnya, dan ia mengangguk pelan. Mungkin itu caranya bilang ia mengerti, atau mungkin ia juga sedang mencari cara untuk berdamai dengan perasaannya.
Aku menulis ini karena aku ingin ibuku tenang. Aku ingin diriku sendiri juga tidak terus gelisah. Memilih siapa yang kita simpan di kontak ponsel bukan cuma soal nomor telepon, tapi soal melindungi ketenangan batin. Kalau sebuah kontak hanya membawa resah, mungkin lebih baik dilepaskan. Karena di balik setiap status atau pesan, ada hati yang bisa terluka—dan aku cuma ingin ibuku, dan siapa pun yang membaca ini, bisa menjaga hatinya dengan lebih baik.
Sekedar renungan pribadi, semoga jadi inspirasi, tokoh hanya sudut pandang bukan kejadian pasti - jangan diambil hati
And the point is at the last sentence,jangan diambil hati... Hehe
BalasHapusHeheh☺️
BalasHapus