Ada Diabaikan Pergi Ditangisi
Aku bersimpuh di hadapan Allah, memohon ketenangan hati. Entah sudah berapa kali aku mengulang ayat itu di tengah sepi malam yang dingin. Suara angin yang berbisik melalui celah jendela seolah turut menangisi rindu ini. Semakin kuucap, semakin deras air mata ini mengalir, membasahi sajadah yang kini menjadi saksi bisu penyesalanku. Al-Qur’an di hadapanku masih terbuka pada ayat tentang kebaktian kepada orang tua, kertasnya basah oleh tetesan air mata yang jatuh dari pipiku, seolah tinta suci itu bercampur dengan air mata hamba yang lalai.
{وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ}
Yang artinya:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
Kenangan indah bersama ibuku tiba-tiba melintas, membawa kebahagiaan sekaligus luka yang dalam. Aku teringat saat ibuku mengajakku makan di luar, di sebuah warung kecil di tepi sawah yang sepoi-sepoi anginnya membawa aroma rumput hijau. Dengan senyum khasnya, ibuku berkata, “Ayo, kita tandai bahwa kita pernah ke sini.” Aku mengambil ponselku, memotret kami berdua dalam bingkai selfie penuh tawa, dengan latar belakang langit senja yang memerah. Ah, ibuku selalu begitu—penuh semangat menikmati momen kecil, menciptakan kenangan yang kini terasa seperti harta yang hilang. Teringat pula saat ibuku menasehatiku untuk tidak meninggalkan Al-Qur’an sesibuk apapun kita. di bawah lampu minyak di malam yang gelap saat lampu di rumah kami mati, suaranya lembut namun tegas, membimbing hatiku satu demi satu.
Namun, ibuku bukan hanya sosok ceria. Ia pekerja keras yang tak pernah lelah. Di mana pun kami berada—di warung makan, tempat wisata, kereta, bahkan di tengah acara keluarga—ia selalu membawa laptopnya. Saat jadwal mengajar tiba, ia akan membuka laptop itu dan mulai mengajar, tak peduli di mana kami berada. Aku sering melihatnya duduk di sudut ruang tamu, dikelilingi tumpukan buku dan kertas, sambil sesekali menatap ke luar jendela seolah mencari inspirasi. Di dapur, aku sering mendengarnya melantunkan hafalan ayat-ayat Al-Qur’an dengan nada yang tenang, mengisi udara dengan keharuman spiritual sambil mempersiapkan makanan untuk kami.
Ibuku di tengah acara keluarga dan mengambil tempat menyendiri,bukan karena ia tak peduli pada sekitar, tetapi ibuku punya caranya sendiri dalam menjalin hubungan. Ia lebih suka menyempatkan diri mengunjungi orang tua, kakak, uwa, atau bibinya secara langsung, membawa buah tangan sederhana seperti kue buatannya, daripada sekadar berkumpul dalam acara-acara formal yang penuh makan-makan. Baginya, silaturahmi adalah tentang kehadiran yang tulus, tentang sentuhan tangan yang hangat.
Setiap pagi, ibuku juga suka memetik bunga-bunga di halaman rumah—bunga kertas kesukaannya, juga coreopsis semacam kenikir dengan warna kuning yang cantik, alamanda atau kamboja—lalu meletakkannya dalam vas tanah kecil yang kami beli bersama. Bunga-bunga itu akan menghiasi ruang tamu, dapur, bahkan meja belajarnya, menebarkan aroma segar yang membuat rumah terasa hidup. Kini, sudah tiga puluh hari sejak ibuku pergi mengurus nenek di kampung. Rumah ini terasa sunyi, hanya diisi derit pintu kayu tua dan desir angin yang menerpa jendela kaca yang mulai berdebu. Awalnya, hari-hari tanpa ibuku terasa biasa saja, seperti rutinitas yang bisa kulalui sendiri. Namun, kini kesepian merayap masuk, menusuk relung hatiku yang paling dalam. Semakin lama, rasa sakit itu semakin dalam. Aku merindukan teriakan-teriakannya yang memintaku menyapu lantai, menyiram bunga-bunganya yang mulai layu, atau menutup jendela kamar yang lupa kubiarkan terbuka. Vas-vas bunga itu kini kosong, hanya menyisakan daun kering yang jatuh ke lantai bersama butiran butiran hangat di pipiku.
Pagi ini, aku berdiri di depan akuarium besar berukuran satu meter yang menjadi kebanggaan ibuku. Airnya kini sedikit keruh, dan beberapa ikan mas berenang mendekat, menabrak dinding kaca seolah menunggu butiran makanan yang biasa ibu berikan. Aku tersenyum pilu, mencoba mengambil sejumput pelet dari toples yang ia simpan di rak. Tiba-tiba, suara ibuku menggema, “Ikan-ikannya kasih makan dulu, tolong.” Aku menoleh ke sana kemari, linglung, mencari sosoknya yang tak ada. Hanya gema suaranya yang tersisa, bercampur dengan kenangan lain—suara yang membangunkanku untuk salat Subuh, “Bangun, dek, sudah waktunya salat,” atau lantunan ayat-ayat yang ia hafal di dapur.
Aku terbangun dengan mata kantuk, berjalan tertatih menuju kamar mandi. Di sana tak ada ibuku. Hanya gema suaranya yang mengingatkanku untuk segera berwudu dan bergegas ke ma’had sebelum terlambat. Lalu, suara itu pun sirna lagi, meninggalkan ruang hampa di dadaku. Aku duduk kembali di kursi kerja miliknya, mencium bau harum sabun cuci piring yang masih menempel di sandalnya, dan mengingat kembali hari-hari ketika ibuku duduk di sini sambil membaca doa perlindungan untuk kami. Kini, bunga-bunga di halaman belakang telah layu, seperti hatiku yang kini penuh penyesalan.
Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini yang telah lalai.
Ibu, maafkan anakmu yang selalu mengabaikanmu, yang selalu menunda keinginanmu. Aku rindu pelukmu, rindu senyummu, rindu semua tentangmu.Teriring doa kesembuhan untuk nenekku.Cepat pulang ibu, kami merindukanmu.
Buatmu, terimakasih sudah merindukan ibumu.
Komentar
Posting Komentar