Paranoid

 



Di sebuah kampung kecil yang dikelilingi sawah hijau, Aisyah—atau yang biasa dipanggil Ica—duduk di beranda rumahnya yang sederhana. Di tangannya, ponsel tua yang layarnya sudah agak buram menampilkan pesan-pesan panjang yang ia ketik dengan jari gemetar. Ia sedang curhat pada sahabatnya, Ummi, lewat aplikasi pesan singkat. Gaya tulisannya penuh singkatan, lugas, tapi sarat perasaan. “Ana ngetik gini biar cepet, Mi. Banyk yg mo dicritain,”katanya suatu kali, sambil tertawa kecil meski matanya berkaca-kaca.

Ica bukan tipe yang suka mengeluh, tapi hidupnya belakangan terasa seperti mendaki bukit tanpa ujung. Suaminya, Hasan, dulu pernah didiagnosa paranoid oleh dokter. “Wkt anak2 msh kcil, suami ana kyk orang lain, Mi,”tulisnya. “Suka curiga ga karuan. Ana dikira slingkuh, pdhal ya Allah, ana kan bercadar, usaha nutup rapet. Tpi pikiranya suami kmana-mana.”Ica ingat betul masa-masa itu. Saat anak ketiganya lahir, Hasan bahkan sempat bilang bayi itu mirip tetangga, sampai ngotot minta tes DNA. Ica cuma bisa nangis di sudut kamar, sambil memeluk anaknya erat-erat.

“Dlu sih konsul ke dokter, tmn kasih saran. Dokterny jg udh ngaji, jd enak cerita,”lanjut Ica dalam pesannya. Dokter bilang, penyakit Hasan mungkin berasal dari tekanan masa kecil. Bapaknya dulu galak, suka memaki tanpa filter. Ditambah, awal pernikahan mereka penuh gesekan. Ica akui, dulu dia juga keras, susah nerima kekurangan Hasan. “Mungkin itu jg yg bikin tambah parah, Mi,”tulisnya dengan tiga titik di akhir, seolah menahan napas.

Hari demi hari, kondisi Hasan perlahan membaik. Setelah hampir dua dekade, kecurigaannya mulai mereda. “Tpi was-wasnya msh ada, Mi,”kata Ica. Yang bikin dadanya sesak sekarang bukan lagi tuduhan-tuduhan gila, tapi soal nafkah. “Dlu msh kasih uang blanja, meski dkit. Skrng? SjAK ibu meninggal, 8 thn lalu, dia ga prnah kasih apa-apa lg.”Ica menarik napas panjang sebelum mengetik lagi.“Kbutuhn rmh, skolah anak, ana yg bayar. Suami? Entah dia simpen duit buat apa.”

Ica bukan wonder woman, tapi hidup memaksanya jadi seperti itu. Pagi-pagi, dia keliling kampung jualan kue buatan, meski katanya sendiri, “Ana ga pinter masak, Mi. Ga fokus, kerja lambat.”Kadang, dia cuma bisa beli lauk di warung tetangga karena Hasan bilang, “Beli aja, ngapain masak.” Ica cuma nyengir kecut. “Hikmahnya, ana ga prlu repot di dapur. Bisa ikut zoom taklim, belajar agama tanpa beban masak. Alhamdulillah,”tulisnya, meski Ummi tahu ada nada getir di balik kata-katanya.

Suatu sore, Ica teringat kejadian dulu yang bikin dia sadar Hasan punya masalah. Waktu itu, mereka ke acara kajian di kota. Anak sulungnya, Husein, baru tiga tahun. Ica cuma ingin beli baju koko buat anaknya di depan kampus. Tiba-tiba Hasan marah, nyaris menyeret Ica pulang. Di jalan, motornya ngebut, sambil ngomel ga jelas. “Ana salah apa, Mi? Trus dia nyruh ana balik ke rmh ortu!”ceritanya. Belakangan Ica tahu, Hasan curiga Ica ngobrol sama tetangga lama, padhal cuma sapa biasa.“Bukan cuma itu, Mi. Dia curiga sama ipar, kponakan, smpe supir travel yg anter ibu. Smua orang jdi musuh dlm pikirannya.”

Ica pernah hampir putus asa. Tapi setiap kali hatinya goyah, dia ingat pesan ustaz di taklim: “Ujian itu datang biar kita dekat sama Allah.” Dia belajar ikhlas, meski kadang sesak di dada masih datang. “Ana ambil hikmahnya aja, Mi. Mungkin Allah mau ajar ana sabar. Mungkin Allah kasih ana kesempatan buat mandiri,”tulisnya. Tapi di ujung pesan, dia menambahkan,“Tpi kdg nyesek, Mi. Anak yg mondok, ana yg mikirin biayanya. Suami punya duit, tpi disimpan. Ana ga suka gitu.”

Malam itu, setelah menutup ponsel, Ica duduk di beranda lagi. Anak-anaknya sudah tidur, rumah sepi. Di langit, bulan purnama bersinar lembut. Ica tersenyum kecil, mengingat pesan Ummi tadi siang: “Ica, kamu kuat banget. Allah pasti lihat perjuanganmu.” Dia menarik napas dalam, lalu berdoa dalam hati, “Ya Allah, jika ini ujian, lapangkan hatiku. Jika ini hikmah, tunjukkan jalannya.”

Di kejauhan, suara azan magrib menggema. Ica bangkit, mengambil wudu, dan bersiap salat. Di sela sujudnya, dia berbisik, “Alhamdulillah, apa pun yang Kau beri, aku terima.” Di hatinya, ada harapan kecil bahwa suatu hari, Hasan akan kembali jadi suami yang dia kenal dulu—atau setidaknya, hatinya sendiri akan terus kuat menjalani hidup, apa pun yang datang.

Pesan dari Hati Ica buat Teman-Teman:

“Ke temen2 yg punya suami agak aneh, sampe aneh banget kyk paranoid, NPD, atau apalah, ana mau bilang: Sabar ya, jgn lelet dr rel yg digariskan Sang Pencipta. Tetep lah bahagia, meski berat. Ana doain kalian smua bahagia, krn Allah tau apa yg terbaik buat kita. Alhamdulillah!”

Disclaimer: Cerita ini adalah karya yang terinspirasi dari kisah nyata yang dibagikan, namun telah diadaptasi dengan penyesuaian untuk keperluan narasi dan tidak mencerminkan peristiwa atau individu secara persis. Nama, karakter, dan detail dalam cerita bersifat fiktif dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan orang atau kejadian tertentu secara langsung. Cerita ini dibuat untuk tujuan hiburan dan refleksi, dengan tetap menghormati nuansa emosional dan keluguan dari kisah asli yang dibagikan. Jika ada kesamaan dengan kejadian nyata, hal tersebut tidak disengaja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silabus Al Muyassar

Iri

Anakku, Ampuni Ibumu