Ketawa yang Terlambat
Hari ini aku mendatangi temanku. Kubilang, dia ahli segalanya. Aku sedikit curhat :
"Kenapa aku susah ketawa ya padahal aku menonton video yang orang lain bisa pada ngakak sampai sakit perut, tapi bagiku itu belum lucu.Ada beberapa video yang bisa bikin aku ngakak tapi itu sangat sedikit."
Alih alih menjawab, dia malah ceramah panjang lebar tentang humor, tapi aku suka.Semua yang dia katakan bahkan ibarat daging yang siap kumakan.Itu ilmu dan aku takkan sia siakan, dan itu kenapa aku kadang suka curhat padanya. Seperti sore ini di teras rumahnya, saat aku mendatanginya karena bosan di rumah setelah resign. Obrolan ringan, hanya soal ketawa.Seperti sekedar curhatan iseng.
Dia mulai menjawabku :
"Ini hal yang lumrah banget, kok. Banyak orang yang ngerasain hal yang sama kayak kamu. Aku coba jelasin secara sederhana ya, biar kamu nggak overthinking." katanya mulai ceramah.Akupun siap mendengarkan seperti biasanya.
"Sense of humor itu personal banget" katanya.
"Yang lucu buat orang lain, belum tentu lucu buat kamu."
"Ada yang suka slapstick (jatuh-jatuhan, konyol fisik), ada yang suka dark humor, puns, satire, atau absurd." katanya mengeluarkan jurus seribu mufradatnya dalam bahasa asing.
"Kamu mungkin termasuk tipe yang humornya spesifik — misalnya cuma ketawa kalau ada kontekstual, ironis, atau cerdas (bukan cuma “eh jatuh, haha”)." Tebakannya membuatku sedikit tenang dan tersanjung.Dalam bayanganku aku mengidap penyakit karena sebab tekanan psikis atau apa yang tidak kusadari sehingga susah ketawa.Ya.Aku kadang tidak menyadari apa masalahku, tapi tiba tiba saja aku memiliki gejala seperti orang depresi atau tertekan.Bahkan aku pernah ditest seorang herbalis "Pejamkan matamu, lalu buka kembali" katanya.
Akupun menuruti kata Herbalis itu Dan setelah aku membuka mataku, katanya "kamu punya banyak trauma ya".
O my God, semudah itukah mengetes orang ? Hanya dengan memintaku memejamkan mata dan lalu membukanya dia langsung tau aku banyak trauma. Aneh, disitulah aku jadi tau bahwa aku banyak trauma, hal yang sebelumnya tak pernah kupikirkan.Ada benarnya juga si herbalis itu, batinku sesak.
Ya tapi perkataan temanku ini ada benarnya juga, selera humorku mungkin tinggi, tidak bisa ngakak hanya dengan guyonan ecek ecek. Itulah kenapa aku menyukainya, orangnya optimistis, melihat orang lain beserta masalahnya dari sudut pandang yang berbeda, tidak mengklaim dengan bahasa "negatif".
Dia melanjutkan khutbahnya, aku siapkan saja mentalku, aku sudah hafal apa selanjutnya, hihi.
"Atau mungkin kamu lagi "flat" secara emosi".katanya.
Nah kan sudah kuduga.Tapi it's ok.Aku tak kan membantahnya, karena bisa jadi itu juga benar.
"Kalau lagi stres, cemas, depresi ringan, atau capek, otak susah ngerasain kesenangan — termasuk ketawa." katanya.
Ini namanya anhedonia (susah menikmati hal yang biasanya menyenangkan). Bukan berarti kamu rusak, cuma lagi “low battery” aja." cerocosnya pintar.Kecerdasannya bahkan membuatku iri sebagai temannya.
Hmm, ok, bisa jadi.Sayangnya aku kurang perhatian pada diriku sendiri, aku sibuk dengan pekerjaan dan pikiranku tentang keluarga, ibuku, anak anakku, anak anak suamiku, cucu cucuku, cucu cucu suamiku, yang sebenarnya buat apa aku memikirkannya terlalu dalam, toh mereka semua fine fine saja.Jenis manusia apa aku sebenarnya.
Temanku melanjutkan penjelasannya, mungkin agar aku lebih punya gambaran tentang apa yang terjadi padaku.Apakah seserius ini orang tidak bisa tertawa?
"Atau mungkin Kamu terlalu analitis" katanya.
"Orang yang overthinking sering “menganalisis” lelucon sebelum ketawa.
Misal: “Oh ini timing-nya off 0,5 detik, jadi kurang lucu.” katanya, tapi tak kupahami.
"Akibatnya? Ketawa nggak spontan, malah jadi “ah biasa aja”. katanya melanjutkan, membuat aku sedikit paham.
Hmm, bisa jadi.Tapi kali ini aku sedikit menginterupsinya.
"Jadi kira kira aku kenapa bro susah ketawa" kataku sambil bercandaan dengan bahasa anak sekarang "bro".
"Ok, gini.Aku akan kirim satu video kamu tonton lalu katakan padaku kamu ketawa tidak, atau setelah beberapa detik, atau setelah kamu ulang"
Hmm, aku jadi seperti sedang dirawat seorang psikiater. Tapi aku ikuti saja arahannya.Video promosi panci dengan durasi 2 menit.Mana ada lucunya.
Lalu beberapa video berbahasa Inggris yang aku diminta mencari subtitle sendiri.Hmm sama sekali tidak lucu.
Ahirnya dia memberikan analisa terahirnya untukku yang kukira bukan penyebab diriku tidak bisa tertawa.
"Paparan berlebih = kebal?" Katanya putus asa, hihi.
"Kalau kamu sering nonton video lucu di TikTok/Reels, otak jadi desensitized (kebal)." katanya dengan bahasa bahasa susah.
"Yang dulu lucu, sekarang jadi “udah biasa”.lanjutnya.Aku masih takzim mendengarnya.
"Makanya cuma video yang benar-benar unik/rare yang bisa bikin kamu ngakak."
Hmm, baiklah.Tapi sudahlah, tidak bisa tertawa bukan berarti aku tidak bahagia. Dan dunia tidak akan berhenti karena aku tak bisa tertawa bersama manusia.
"Kamu baik baik saja kan ya" tanyanya.
"Ya I am fine. It's ok" kataku.
Hmm, dia memang paling tau baget ke aku.Kuatir padaku dan ingin agar aku selalu fine fine saja."Terimakasih sudah mau mendengarkan ku ya."
"No problem" katanya sambil menepuk nepuk bahuku. Adem.
Sebelum pulang dan setengah pantatku masih berada di kursi teras miliknya, siap berdiri, dia berpesan random seperti biasa :
"Cari konten yang sesuai selera mungkin kau butuh konten sarkastik atau ironik" katanya.Aku hanya mengangguk, karena sebenarnya itu kulakukan hanya untuk hiburan saja di sela sela kesibukan. Aku tidak punya schedule khusus buat scroll media.Entah apa itu tik tok, wa, instragam, dll.
"Jangan paksa ketawa" katanya bak seorang psikiater.
"Ok" kataku sambil memberi isyarat lingkaran dengan kedua jari jempol dan telunjukku sambil berlari pergi.Dia tersenyum puas.
"Kalau lagi down, coba tidur cukup, olahraga ringan, atau ngobrol sama temen. Mood naik → ketawa lebih gampang." Hihi, tuh kan lihat kerandoman dia saat kasih nasehat.Tapi aku suka.Mungkin emang kayak gitu gaya bahasa orang pinter saat bicara.
" Eehh tapi Coba “ketawa paksa” dulu." katanya sambil berteriak karena aku sudah berlari pergi.
"Aneh kedengerannya, tapi riset bilang: senyum/ketawa palsu 30 detik bisa trigger otak buat beneran ketawa. Coba deh di depan cermin." Sampai hampir kesandung dia mengejarku.Hihi.
"Ok ok" kataku.Pikirku bagaimana aku akan ingat semua pesan yang dia katakan.Mesin otakku saja tidak ada seper seratus otak dia.Ah btw thanks kawan, kataku melambaikan tangan.
"Jangan kebanyakan scroll konten lucu juga, supaya pas ketemu konten lucu, kamu bisa ketawaaa" teriaknya lepas untuk terahir kalinya.Aku melambaikan tangan.Terimakasih kawan, sudah menemani hariku, batinku.Sehat sehat selalu.
Aku membayangkan seandainya aku masih disana dia mungkin akan berkata :
"Intinya: Nggak ketawa bukan berarti kamu broken. Kamu cuma punya standar humor yang tinggi atau lagi kurang reseptif sementara. Santai aja, kawan. Yang penting kamu masih bisa ketawa — walaupun jarang. Itu udah cukup."
Terimakasih kawan.Tapi aku dikejar pekerjaan.Aku juga masih ingin mendengarmu sampai aku dapat solusi, bahkan sampai kamu selesai menganalisa masalahku dan memberi solusi untukku.Tapi bertemumu saja setengah masalahku rasa telah bertemu setengah solusi!!
Cerita ini fiksi belaka, lahir dari obrolan sore di teras dan scroll malam yang kelewat panjang.
Tokoh, trauma, herbalis, dan “ahli segalanya” hanyalah bayangan — bukan siapa-siapa.
Kalau kamu ketawa terlambat, selamat: kamu mungkin termasuk 0,1% humor elit.
Kalau nggak ketawa sama sekali — juga nggak apa-apa.
Hidup bukan stand-up comedy. Hidup cuma butuh temen yang nepuk bahu.hihi.
Komentar
Posting Komentar