Melindungi Hati Ibu di Tengah Kekecewaan
Hari ini aku menemui dokter yang kemaren melakukan screening kesehatan buat ibuku sebagai syarat istitha'ah naik haji tahun ini Dengan rasa berdebar aku menunggu dokter Indah berbicara.
"Hmm" gumamnya."Bagaimana dok" kataku tak sabar akan keputusan dokter cantik itu ."Maaf ibu, maaaf" katanya sambil menelungkupkan kedua tangannya di depan dada tanda menyesal. Jantungku berdesir mengingat ibuku."Ya dok" kataku.
"Saya tidak merekomendasikan Mbah uti buat berangkat". Aku terkesiap.Dokter itu memeriksa obat obatan ibuku dan memfotonya.Aku teringat kemaren betapa gembiranya ibuku karena bisa menjawab semua pertanyaan semacam psikotest dari dokter dan dokter memberi jempol untuk ibuku karena menjawab terlalu lancar pertanyaan2 tentang matematika, nama presiden, hari kemerdekaan, tanggal lahir, menunjuk dan menggambar jam dan lain lain yang bagi lansia seumuran ibuku itu adalah perkara yang gagap.
"Bahkan di tahap satu ini saya tidak bisa meloloskan.Fungsi sistolik LV globalnya menurun terlalu rendah 36%, ini sangat beresiko" lanjutnya
Selanjutnya aku hanya berfikir bagaimana cara menyampaikan ini kepada ibuku. Waktu pendaftaran dari 2012 hingga kini bukan waktu yang singkat, tapi itu penantian yang panjang bagi lansia seperti ibuku. Ibuku yang setiap hari berbicara padaku tentang persiapan walimatussafar, mengatur tamu dan hidangan, memesan makanan kardusan dan mencari makanan yang terbaik untuk para tamunya nanti.Semua itu bercampur jadi satu dalam benakku, bercampur dengan pikiran mencari strategi menyampaikan ini agar ibuku tidak down dan sedih.
Badanku masih lemas karena pernyataan dokter Indah.Dan sudah kuduga ibuku pasti sudah menungguku di teras dan siap mencercaku dengan pertanyaan hasil investigasi obat oleh dokter puskesmas tadi.
Aku bilang pada ibuku tanpa berterus terang bahwa screening tahap awal bahkan tidak lolos.Aku hanya bisa menyampaikan pesan dokter Indah "Silahkan Minggu depan diajak Mbah utinya ke rumah sakit untuk mengikuti pemeriksaan lebih lanjut pada tahap kedua screening di rumah sakit yang ditunjuk, kalau ibu belum siap menyampaikan ke Mbah utinya, sampaikan pada Mbah utinya agar siap apapun kemungkinan hasil keputusan dari dokter RS karena dari kami dari pihak puskesmas sudah menyatakan tidak lolos di tahap awal."
Begitulah aku sampaikan bahwa kita akan ke rumah sakit pekan depan tapi kita harus siap apapun keputusan dokter.
Ibuku bilang penuh palawira"oh ya siap Insyaallah" katanya mantap tetapi dengan sorot mata kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Itulah ibuku seorang yang sangat pintar menyembunyikan kesedihannya untuk orang lain, meski hatinya pedih. Apakah orang pasrah tak boleh pedih ?
Aku sampaikan bahwa kanjeng nabi bersabda :
بحديث النبي صلى الله عليه وسلم وعَنْ أبي عَبْدِاللَّهِ جابِرِ بْنِ عَبْدِاللَّهِ الأَنْصَارِيِّ رضِيَ اللهُ عنْهُمَا قَالَ: كُنَّا مَع النَّبِيِّ ﷺ في غَزَاة فَقَالَ: إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيراً، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِياً إِلاَّ كانُوا مَعكُم حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ وَفِي روايَةِ: إِلاَّ شَركُوكُمْ في الأَجْر رَواهُ مُسْلِمٌ.
ورواهُ البُخَارِيُّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: رَجَعْنَا مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: إِنَّ أَقْوَامَاً خلْفَنَا بالمدِينةِ مَا سَلَكْنَا شِعْباً وَلاَ وَادِياً إِلاَّ وَهُمْ مَعَنَا، حَبَسَهُمْ الْعُذْرُ.
Intinya bahwa jika kita sudah berniat melakukan ibadah dan ada udzur karena sakit atau yang lainnya maka kita tetap mendapat pahala ibadah itu.
Ibuku mengangguk "iya iya", katanya, bibirnya bergetar kecewa.
Hari hari selanjutnya sudah kupastikan ibuku akan menyibukkan diri dengan pekerjaan pekerjaan yang sebenarnya itu belum diperbolehkan.Membersihkan rumput dan lumut lumut di halaman, menanam bunga bunga, menyapu, bahkan di malam hari mengaktifkan pengajian pengajian di masjid yang sudah lama absen karena sakit hingga larut malam, tentu itu ia ingin menunjukkan padaku bahwa ia sehat, tapi aku tau kondisimu Bu, aku yang merawatmu.
Aku sedih Bu, tapi aku tau kesedihanmu.Itu adalah pelampiasanmu agar tak sedih kan?
“Ya Allah, berikan kesehatan dan kekuatan kepada ibuku, terima niat tulusnya untuk beribadah kepada-Mu, dan gantikan kekecewaannya dengan kebahagiaan yang Engkau ridhai.”
Memo Jumat Berkah, Allahumma taqabbal minnaa TT
Ikut sedih bacanya ustadzah. 💦💦💦
BalasHapusSyukran💦
Hapus