Ketika Asap Itu Merenggut Kebahagiaanmu



Pagi itu hujan gerimis menyapa kota kelahiranku yang masih setengah mengantuk. Aku membuka pintu rumah dan langsung disambut kakakku yang pulang dengan langkah lesu. Matanya merah, bahunya melengkung seperti membawa beban dunia. “Cucuku… infeksi paru,” katanya pelan, suaranya hampir hilang di tenggorokan. “Dokter bilang dia lemah sekali di ruang Flamboyan. Kami semalaman nungguin dia.” Dadaku langsung sesak. Dulu, saat aku sendiri berjuang melawan TBC, aku tahu betul bagaimana rasanya: batuk yang tak henti, demam yang membakar, nyeri dada seperti ada pisau yang menusuk setiap kali bernapas. Kini, cucu kecil yang baru berusia 3,5 tahun harus merasakan itu. “Mi, apa itu TBC? Bahaya nggak?” tanya kakakku, suaranya gemetar. “Bahaya sekali, mbak,” jawabku lembut, meski hatiku bergejolak. Aku ingat kemarin sore, saat mampir ke rumah kakakku. Aku bertanya pada menantunya, “Mas, ngrokok?” Jawabannya singkat: “Iya.” Saat itu aku sudah curiga. Dan dugaanku tak meleset. Asap rokok pasif—secondhand smoke—itu yang meracuni paru-paru gadis kecil tak berdosa. Lebih dari tujuh ribu zat kimia beracun, puluhan di antaranya karsinogen, menghancurkan sistem imun yang masih rapuh. Risiko pneumonia, bronkitis, bahkan TBC naik drastis karena asap itu merusak pertahanan alami paru-paru. Kakakku duduk di kursi ruang tamu, menatap lantai. “Aku sudah capek ngomong,” katanya. “Semua orang di rumah ini perokok berat. Aku ingin berhenti, tapi… mereka bilang cuma sebentar, cuma buat relaksasi.” Air matanya jatuh. Aku merangkul bahunya. “Mbak, bayi itu nggak bisa memilih. Dia cuma menghirup apa yang ada di udara rumah. Setiap hisapan rokok kalian, bukan kalian yang paling menderita—tapi dia. Dada sesak, demam tinggi, batuk yang melelahkan, nyeri yang tak tertahankan. Aku pernah merasakannya. Aku penyintas TBC, aku merawat beberapa pasien yang sama. Dan sekarang… cucu kita.” Dalam hati aku berteriak, meski suaraku tetap tenang. Wahai kakek yang merokok, jangan kasihani dirimu—kasihanilah cucumu. Wahai ayah yang merokok, jangan kasihani dirimu—kasihanilah anak-anakmu. Wahai pakde, om, paman, kakak, mas, abang… kasihanilah adek-adek dan keponakan-keponakanmu. Asap itu bukan cuma membunuh pelan-pelan perokoknya. Ia merenggut kebahagiaan keluarga. Ia mencuri tawa bayi, mencuri malam-malam tanpa batuk, mencuri masa depan yang seharusnya cerah. Malam itu, aku tak bisa tidur. Aku membuka ponsel dan menulis curahan hatiku. Besok pagi, aku akan bacakan lagi pada kakakku. “Ada program berhenti merokok gratis dari Kemenkes, mbak. Quitline di 0800-177-6565, atau chat @Quitina_bot. Metode S.T.A.R.T: Set tanggal berhenti, Tell keluarga, Antisipasi godaan, Remove pemicu, Talk ke ahli di Puskesmas. Kita bisa bantu menantu mulai dari sekarang. Bayi itu butuh kita.” Kakakku mengangguk pelan. “Aku mau coba,” katanya. “Demi cucu.” Aku tersenyum kecil di antara air mata. Asap rokok memang kejam. Tapi cinta keluarga, ternyata, lebih kuat. Di ruang Flamboyan, gadis kecil itu masih berjuang. Tapi di rumah ini, sebuah perubahan mulai berhembus—lebih segar, lebih bersih, penuh harapan. Semoga Allah mudahkan kesembuhannya. Aamiin. Dan semoga, suatu hari, tak ada lagi bayi yang harus menangis karena asap yang bukan miliknya.

Di teras Alas Menthok rumah ibuku : Semoga hari dan hati semakin baik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silabus Al Muyassar

Iri

Anakku, Ampuni Ibumu