Resign
Langit pagi di kota kecil ini selalu berwarna biru muda, seperti kain batik yang baru dicelup, lembut dan tak pernah terlalu terang. Aku menarik napas dalam-dalam di beranda rumah ibuku, aroma teh tubruk bercampur embun. Tiga bulan lalu, aku masih terjebak di antara tumpukan modul ajar, dering telepon kantor, dan wajah-wajah yang pura-pura tersenyum. Kini, tanganku hanya memegang cangkir hangat dan jari-jari ibu yang kini lebih dingin dari biasanya.
“Aku resign, Bu,” kataku malam itu, suara bergetar seperti daun kering.
Ibu hanya mengangguk, matanya berkaca. “Kamu sudah lama lupa cara tersenyum, Nak.”
Pagi berikutnya, aku mengemas hidupku dalam dua koper tua. Kota besar kutinggalkan dengan kereta malam, lampu-lampunya berkedip seperti perpisahan yang tak ingin kuingat. Di stasiun kecil dekat rumah ibu, aku turun dengan pakaian kusut dan hati penuh debu. Tapi udara di sini lain—lebih ringan, seperti biru muda yang menyelimuti langit.
Hari-hari pertama, aku belajar lagi cara hidup. Membuatkan ibu bubur kacang hijau, menyiram tanaman kemangi di pot kecil, mendengar cerita-cerita lama yang ibu ulang dengan tawa pelan. Aku tak lagi terbangun oleh alarm jam lima pagi. Aku terbangun oleh suara burung gereja dan sinar matahari yang menyelinap lewat celah jendela kayu.
Tiga bulan berlalu seperti hembusan angin. Suatu sore, tetangga lama ibu datang membawa sekotak kue putu. Matanya melebar.
“Ya Tuhan, kamu kok… beda? tambah muda ya!”
Aku tertawa, tak percaya. Tapi saat bercermin malam itu, aku melihatnya sendiri: pipi lebih penuh, mata lebih bercahaya, kerutan di dahi lenyap seperti kabut yang tersapu angin.
Aku pulang sebentar ke kota lama, menengok rumah kosong yang dulu kutinggali. Iparku menatapku seperti melihat hantu yang hidup kembali.
“Kamu pakai skin care ya?” tanyanya, ipar yang dulu sering berlomba bekerja untuk mencukupi keluarga. Skin care ? batinku
“Aku cuma… berhenti berlari,” jawabku.
Malam itu, aku duduk di balkon rumah lama, memandang lampu kota yang masih berkelip seperti dulu. Tapi kini, hatiku tak lagi berdegup kencang. Aku mengeluarkan ponsel, mengetik satu kalimat di blogku yang sudah lama mati:
“Biru muda bukan warna langit pagi. Biru muda adalah warna ketika kamu akhirnya pulang—ke dirimu sendiri.”
Aku tekan publish. Lalu aku matikan ponsel, membiarkan malam menyelimuti seperti selimut hangat.
Di kota kecil, ibu sudah tertidur dengan damai. Aku mencium keningnya pelan, lalu kembali ke beranda. Langit malam di sini tak pernah benar-benar gelap—selalu ada semburat biru muda di ufuk, seperti janji bahwa esok akan lebih ringan.
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tersenyum tanpa alasan—dan itu cukup.
“Untuk setiap jiwa yang memilih berhenti, lalu mulai lagi.”
Komentar
Posting Komentar