Curahan Ibuku

Curahan Ibuku

Poli Jantung, 4 November 2025

❤️

Pagi ini ibuku bercerita banyak. Kami di poli jantung, menunggu antrian dokter. Ceritanya mengalir seperti sungai. Isi hati. Tersedak. Batuk tak henti.

Aku buru-buru ke kantin, beli teh hangat. Ia memandangku — gestur kecil, tapi penuh kasih.

Di Tengah Rumah Sakit yang Ramai

Antrian panjang. Suasana tegang. Tapi cerita ibuku jadi pelipur. Di antara batuk dan dering telepon, ia curhat:

"Masa kecil kami. Anak-anaknya. Keluhan sehari-hari. Nasihat untuk cucu-cucunya."

Itu bukti: ibuku masih punya semangat hidup yang kuat, meski di poli jantung.

Apa yang Ada di Hati Ibuku?

Mungkin karena ia merasa aman bersamaku. Menunggu dokter bikin cemas — takut hasil, ingat masa lalu, khawatir masa depan. Tapi aku di sini. Jadi ia buka hati.

"Tersedak itu bukan cuma batuk. Itu air mata yang tertahan. Kenangan yang tiba-tiba muncul. Teh hangatku? Bukan obat — itu pelukan dalam cangkir."

Aku Belajar Mendengar

Aku tidak buru-buru kasih solusi. Aku cuma bilang:

"Ibu, cerita ibu bikin aku ingat betapa kuatnya ibu dulu."

Ia tersenyum. Senyum kecil. Tapi cukup untuk membuat antrian terasa ringan.

Hujan Deras & Baju Basah

Antrian obat mengular. Surat rujukan belum selesai. Hujan deras. Guntur menggelegar.

Tiba-tiba: bajunya basah. Ia duduk di tumpahan air minum pasien sebelumnya.

"Aku menatapnya iba. Ya Allah, aku kurang mengurusnya…"

Tapi aku sudah: antar ke RS, beli teh, pegang tangan, nunggu berjam-jam. Itu bukan kurang. Itu bakti.

Aku Berjanji

"Mulai hari ini, aku tidak akan jengkel lagi meski ibu ngeyel."

Usia 83. "Ngeyel" itu caranya bilang: "Aku masih ada. Aku masih penting."

Ya Allah,
lindungi hati dan kesehatan ibuku.
Ringankan langkah kami.
Jadikan bakti kecilku ini cukup di sisi-Mu.
"Hari ini ibu curhat di poli jantung.
Baju basah. Hujan deras. Antrian mengular.
Tapi aku belajar:
mendengar > solusi.
teh hangat > kata manis.
kehadiran > kesempurnaan."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silabus Al Muyassar

Iri

Anakku, Ampuni Ibumu