Curahan Ibuku
Curahan Ibuku
Poli Jantung, 4 November 2025
Pagi ini ibuku bercerita banyak. Kami di poli jantung, menunggu antrian dokter. Ceritanya mengalir seperti sungai. Isi hati. Tersedak. Batuk tak henti.
Aku buru-buru ke kantin, beli teh hangat. Ia memandangku — gestur kecil, tapi penuh kasih.
Di Tengah Rumah Sakit yang Ramai
Antrian panjang. Suasana tegang. Tapi cerita ibuku jadi pelipur. Di antara batuk dan dering telepon, ia curhat:
Itu bukti: ibuku masih punya semangat hidup yang kuat, meski di poli jantung.
Apa yang Ada di Hati Ibuku?
Mungkin karena ia merasa aman bersamaku. Menunggu dokter bikin cemas — takut hasil, ingat masa lalu, khawatir masa depan. Tapi aku di sini. Jadi ia buka hati.
Aku Belajar Mendengar
Aku tidak buru-buru kasih solusi. Aku cuma bilang:
Ia tersenyum. Senyum kecil. Tapi cukup untuk membuat antrian terasa ringan.
Hujan Deras & Baju Basah
Antrian obat mengular. Surat rujukan belum selesai. Hujan deras. Guntur menggelegar.
Tiba-tiba: bajunya basah. Ia duduk di tumpahan air minum pasien sebelumnya.
Tapi aku sudah: antar ke RS, beli teh, pegang tangan, nunggu berjam-jam. Itu bukan kurang. Itu bakti.
Aku Berjanji
Usia 83. "Ngeyel" itu caranya bilang: "Aku masih ada. Aku masih penting."
lindungi hati dan kesehatan ibuku.
Ringankan langkah kami.
Jadikan bakti kecilku ini cukup di sisi-Mu.
Baju basah. Hujan deras. Antrian mengular.
Tapi aku belajar:
mendengar > solusi.
teh hangat > kata manis.
kehadiran > kesempurnaan."
Komentar
Posting Komentar