Hari Itu Tiba
Haji Ibuku - YIA Madinah 2026
Akhirnya hari itu tiba. Haji ibuku. Hari ini, 30 April 2026, aku mengantar ibuku yang sangat bersemangat. Alhamdulillah, ibuku dalam kondisi sehat wal afiat. Ibuku nampak sangat bahagia. Aku melepasnya dengan perasaan lega.
Bis-bis pengangkut jamaah haji menuju Embarkasi sudah berjajar rapi di samping pendopo. Para pengantar berkumpul di kursi belakang jamaah yang sudah disediakan. Para petugas siaga mengatur pemberangkatan.
Aku hanya bisa berdoa: Ya Allah, lindungilah ibuku, jagalah ia, mudahkanlah urusannya dan jadikanlah ia haji yang mabrur. Mudahkanlah urusan para calon jamaah haji kami. Lindungilah mereka semua. Aamiin.
Tibalah saatnya para jamaah masuk bis untuk berangkat. Ibuku dengan kursi rodanya masih duduk menunggu suasana agak tertib karena banyak jamaah bergantian masuk bis. Petugas siaga mendorong kursi roda ibuku menuju bus. Ia disambut kakakku untuk menaikannya ke bis. Petugas membantu jamaah lain yang juga risti untuk masuk bis dengan menggendongnya.
Disitulah aku harus melepaskan ibuku untuk pergi sendiri bersama para jamaah. Rasanya seperti saat aku menyapih balitaku di usia mudaku dulu. Berat, tapi itu yang harus kulakukan. Ya Allah jagalah para lansia risti yang akan menjadi tamu-Mu itu. Engkaulah sebaik-baik penjaga. Lindungilah mereka karena Engkau sebaik-baik pelindung. Mudahkanlah urusan mereka karena Engkau sebaik-baik pemegang urusan.
Telpon dari Dokter Kloter 8
Waktu menunjukkan pukul 9 malam saat telpon dari dokter kloter mengagetkanku.
"Bu Fatimah, ibu tensinya tinggi di atas 200. Saturasinya rendah, kami terpaksa membawanya ke RSUD Wates," suara di seberang sana membuatku panik. "Ibu segera menyusul ke rumah sakit ya, oya ini ibunya ingin bicara."
Ku panggil ibuku di sana, suaranya menenangkanku. "Aku rapapa, KOE ngeneh ya," katanya.
"Aku kur butuh istirahat sebentar," kata ibuku.
Tetap saja, bagi aku yang suka overthinking itu seperti berita yang membuatku berfikir macam-macam, bahkan aku seperti menyerah, andai ibuku tak jadi berangkat.
Cerita di Ambulans Malam Itu
Syukurlah aku diminta dokter kloter untuk mendampingi ibuku kembali lagi ke Embarkasi, tempat yang seharusnya steril dari para pengantar. Di ambulans ibuku bercerita: "Aku ra papa, aku mau kur ngeleh karena ora entuk nggawa mangan nang Embarkasi, jare doktere aku kurang asupan."
Aku ingin menangis sambil menatapnya, tapi aku tau dia tidak suka aku menangis, ibuku tak pernah menangis.
Dokter kloter menjelaskan situasi ibuku, insyaallah aman dan stabil. Akupun lega.
Kami sekeluarga menunggu sampai tengah malam, tak ada yang tidur. Detik-detik keberangkatan ibuku, take off pesawat di pukul 11.30 tengah malam sangat berarti bagi kami.
Ya Allah, lindungilah ibu kami, jamaah risti yang ingin sekali bertamu ke rumah-Mu meski kondisinya kami khawatirkan. Lindungilah ia, jagalah ia dan lancarkanlah urusan hajinya.
Doa untuk Ibuku dan Seluruh Jamaah Haji 2026
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Lembut dan Maha Menjaga...
Hari ini aku titipkan ibuku kepada-Mu. Ibuku yang renta, yang semangatnya mengalahkan usia, yang kerinduannya pada Ka'bah mengalahkan segala rasa takutnya.
Ya Hafidz, Ya Wakil, Engkaulah sebaik-baik Penjaga. Genggam tangannya saat ia tawaf. Kuatkan kakinya saat ia sa'i. Lapangkan napasnya saat ia wukuf di Arafah. Sejukkan hatinya saat ia bermunajat di hadapan-Mu.
Untuk semua jamaah lansia dan risti kloter 8, untuk para petugas dan dokter yang tak lelah menjaga, untuk semua tamu-Mu tahun ini: beri mereka kesehatan, kekuatan, dan kemabruran. Pulangkan mereka kepada kami dalam keadaan selamat, dengan hati yang bersih dan dosa yang diampuni.
Dan untukku yang menanti di sini, ajari aku arti tawakkal yang sesungguhnya. Bahwa melepas dengan doa, lebih menenangkan daripada menggenggam dengan cemas.
Aamiin ya Rabbal Alamin.
#Kereta Sawunggalih#haji2026 #hajiibuku #YIA-Madinah #doaanakuntukibunya
Komentar
Posting Komentar